catatanku: Ini adalah cerita yang pertama kali aku ketik pakai komputer, dibuatnya tanggal 8 April 2007, aku ketik ulang 2 Mei 2008.
Di Kampung Gulali ada sebuah kandang sapi yang kosong. Kandang tersebut terbengkalai sejak penghuninya pindah ke Kota Raja. Tumbuh-tumbuhan liar menjalar sampai ke tiang atap, halamannya dipenuhi rumput dan semak yang tinggi. Sementara, laba-laba dan serangga membuat ruangan dalamnya menjadi lembab dan gelap.
Suatu hari, Kampung Gulali dikunjungi pendatang baru dari kampung seberang sungai Madumanis, namanya Josie Si Sapi. Sudah berhari-hari ia tersesat. Di ujung jalan masuk kampung, ia bertemu dengan Ibu Charli Angsa. Lalu ia bertanya untuk meminta bantuan.
“Ibu, saya tersesat. Apa di sini ada rumah kosong?”
“Ada, tapi rumah itu kotor dan sudah rusak,” jawab ibu Charlie Angsa
“Tidak apa-apa. Saya bisa membersihkannya. Sekarang ibu tolong tunjukkan jalan menuju rumah itu.” kata Josie.
“Baiklah. Belok kanan, masuk gang, samping warung.” Jawab ibu Charlie.
Josie bergegas ke rumah itu, tetapi setelah beberapa lama dia menjadi bingung karena perjalanannya rumit dalam gang yang berkelok-kelok. Lalu ia bertanya pada bapak kambing yang bernama Pak Andre, yang kebetulan dia temui sedang duduk santai di bawah pohon.
“Pak, warung ada di mana ya?”
“Di ujung gang, kamu akan lihat ada papan yang menunjukkan arahnya. Tapi jangan ikuti papan, sebab arahnya melenceng sejak papan tertiup angin.” jawab pak Andre.
“Lalu, bagaimana saya sampai ke warung itu?”
“Kalau sudah kamu temukan papan arahnya, kamu ikuti saja anak gang yang ke kanan, sekitar sepuluh meter. Itulah warungnya.”
“Terima kasih,” kata Josie.
Josie akhirnya tiba di rumah itu dan segera membersihkan serta memperbaikinya. Setelah selesai semuanya, Josie merasa lapar dan letih. Untung saja warung hanya di sebelah rumah. Pemilik warung ayam betina bernama Ibu Marina.
“Ibu, saya membeli mie rebus, pisang goreng, kue apem, kerupuk, nasi, shampoo, sabun. Berapa harganya?”
“Semuanya 16 ribu.” Jawab ibu Marina.
“Ini bu, saya bayar dengan uang 20 ribuan.” Kata Josie.
“Kembaliannya empat ribu,” jawab ibu Marina.
Josie makan dengan lahap sehingga ia ketiduran sampai sore. “Sudah sore...oh, besok aku akan mendaftarkan diri ke pak Kepala Kampung dan merayakan rumah ini. Aku harus membuat undangan. Tapi aku harus dibantu. Aku minta bantuan ibu Charlie saja.”
Sore itu Josie bergegas ke rumah Kepala kampung yang senang mendapatkan warga baru, dan langsung menemui Ibu Angsa sebelum malam tiba.
“Ibu Charlie, apa bisa bnatu? Aku membuat undangan, tapi tidak tahu nama-nama penduduk kampung ini. Ibu mau kan membantuku?” tanya Josie.
“Bisa,” kata ibu Charlie.
“Ayo kita mulai,” kata Josie.
“Keluarga ayam: Cita, Nita, Lala, Dinda, Dani, Dino. Keluarga kambing: pak andre, bu sofia, Dina, Tika. Keluarga Angsa: Ibu Bebi, Nafi, Tino, Bagas. Keluarga Bebek: Ibu leni, Sinta, Nia, Ipah, Siti,” Kata ibu Charlie senang. Kemudian Ibu Charli menambahkan, “Kalau kamu mau, ibu besok datang untuk membantu persiapan pesta.”
Josie cepat-cepat mencatat nama mereka semua. Besok harinya, Ibu Charli benar-benar datang dengan membawa perlengkapan masak. Dibantu Bapak Andre dan beberapa tetangga terdekat mereka masak dan mendekorasi rumah dengan gembira. Malam harinya pesta dimulai dan meriah. Semua menyambut josie dengan ramah. Semua senang rumah terlantar di kampung mereka kini ada penghuninya.
TAMAT




